Adventure and Art

this is my soul

Minggu, 11 Maret 2012

Badung vs Bawel

Disela sela istirahatku, sambil mendengarkan lagu dari Iwan Fals - Ibu, tiba - tiba aku teringat masa kecil ku hingga masa sekarangku. Perjalanan yang sungguh sebentar tapi penuh warna. Aku mempunyai seorang mami yang luar biasa hebatnya. Begitu juga perasaan mami ku, beliau merasa mempunyai anak yang luar biasa hebatnya. hahahaha. Bagaimana tidak, tiada hari tanpa cek cok. :D aku bersikeras dengan cara pandang dan pemikiranku sendiri. Begitu juga dengan mami, bersikeras bahwa pemikiran dan tindakannya yang paling benar. Jarang terjadi kakakku bermasalah dengan mami. Hanya aku yang setiap hari selalu bermasalah. Mungkin mami tidak mau mendengarkan isi hati dan pemikiranku dulu. Aku merasa tidak ada keadilan di dalam keluarga, karena aku merasa iri dengan kedua kakakku. Dan aku selalu bertanya kepada mami "kenapa kok selalu aku yang salah? apa aku ini uda gak disayang?", dan dengan lantang mamiku menjawab "terus aja mikir jelek tentang mamimu!". Seketika aku diam, bukan karena aku takut. Aku tidak pernah takut ketika masa kecil-remaja. Tetapi seketika aku langsung berpikir "oo..mungkin aku benar-benar sudah ditolak di tempat ini." sambil membayangkan aku minggat dari rumah. Setiap masalah sepele, aku yang jadi korban "kebawelan" sang ibunda terbawel. Dan aku selalu menjawab emosi mami. Bodoh juga kalau dipikir, seharusnya aku biarkan mami ngoceh sendiri, dari situ mungkin tidak akan pernah punya talenta bawel lagi. hahaa. Tapi dasar sifatku yang tidak pernah terima diperlakukan tidak adil dan sifatku yang tidak mau kalah, jadi selalu sahut menyahut antar perdebatan "perang dunia". Sama - sama tidak mau mengalah ketika berperang mulut dengan mami. Tetapi, itu semua bukan berarti tidak bisa berubah, semua sudah berubah untuk masa sekarang. Karena papi ku yang merasa RISIH dengan ocehan ku dan mami. Suatu saat ketika aku berperang mulut dengan mami hingga aku membuat mami menangis, papi ku dengan kesabarannya memanggil aku di dalam kamarku. Dan berkata kepadaku "mamimu ngomongin kamu itu demi kebaikanmu sendiri. Bukan kebaikan orang lain, karena kamu anak papi mami. Coba kamu diam, resapi dan melihat dirimu sendiri, sudahkah kamu benar? belum tentu kan?". Aku masih emosi dan menyanggah perkataan papi, "terus salahku apa? kenapa setiap ada masalah aku juga ikut-ikutan kena? kenapa cece, koko gak pernah dimarahin? ya, aku tau, aku yang paling jelek, bodo, mati aja aku!". Semakin memanas keadaan di kamarku, dan papi menjawab pertanyaan serta pernyataanku "nduk, kamu itu ga bodo, kamu itu cerdas, kamu itu disayang, kamu itu panutan keluargamu kelak, kamu juga jadi ibu suatu hari nanti. Bagaimana kalau kamu punya anak yang mbangkang, badung kaya kamu gini? koko cecemu kenapa ga disentuh? soale mami lebih mengandalkan kamu di dalam keluarga. Kamu yang punya kepedulian tinggi sama sodara, lingkungan juga. Sekarang kamu coba pikir dulu, apa salahmu, apa salahnya mami. Masa ribut terus, ga malu ta sama tetanggamu? Minta maaf sama mami, coba diskusiin sama mami yang bener kaya gimana". Aku diam dan merenungkan masukan dari papi. Sekitar 30menit berlalu, aku datang ke kamar mami. Aku menyapa, "mi?". Dan mami menjawab dengan sengak, "masih mau bikin orang tuamu nangis terus?". Aku diam, aku mengalah dan berkata "minta maaf (sambil menjulurkan tanganku). Lha mami marah - marah terus, aku ya gak mau dimarahin. Enak men koko cece salah tapi jarang dimarahi. Aku cuma minta keadilan tentang itu. Gak minta yang laen, aku juga ga pernah nyusahin mami, aku manut, aku makan juga sembarang, aku baju juga ga pernah minta dibeliin, aku bisa sendiri, aku ulangan juga pasti dapet nilai yang baik, aku keluar belajar pasti belajar, ga pernah nakal, aku bantu-bantu kerjaan di rumah, aku bisa ngatur waktuku sendiri. Terus apa yang buat mami marah sama aku?". Dengan nada sendu, mami ku menjawab "kamu itu gendut! Liat dirimu, kamu ga bisa atur makanmu. Capek aku liat kamu seneng makan." Aku sempat kaget dengan jawaban itu, dan aku tidak bertanya lagi, aku hanya menuangkan sebuah pemikiranku, "mi, masih beruntung punya anak yang ga pernah ngeluh, ga pernah minta macem-macem. Masih mending punya anak ga rewel, gimana kalo mami punya anak tapi makane milih-milih? aku ga salah mi. Aku bener, aku makan dengan lahap karena aku bersyukur dapet makanan enak, meski papi mami menu sehari-hari always tempe. Aku juga ga malu bawa bekal tempe ke sekolah." dan aku langsung keluar kamar, kembali ke kamarku sendiri. Mami hanya diam saja. Seiringnya aku tumbuh, aku jadi berpikir bahwa menyelesaikan dengan kepala dingin lebih enak. Dari situ aku selalu mengalah dan bicara halus dengan mami. Karena mami selalu hadir disaat aku senang ataupun susah. Selalu menasihati aku, selalu melindungi aku sebagai anaknya. Aku juga akan berusaha lebih sayang sama mami, ga cuma sama papi. Akhirnya, tidak ada istilah "Badung vs Bawel" lagi. hahahaahahahaaa.... kisah yang lucu dan tidak masuk akal di masa kecilku. :D tapi aku sangat sayang keluargaku, begitu juga sebaliknya. Aku tidak mau mengecewakan mereka semua. Semangaaatt..!!! :D

0 komentar:

Posting Komentar